Monumen Nasional

monumen-nasional

Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk

http://76.162.50.176/all/2009-03/fjatnika46032.jpg

mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an.

Tugu Peringatan  nasional dibangun di areal seluas 80 Hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.

Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga Pada hari-hari libur

monumen-nasional-21

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Patung Selamat Datang

tugu-slamat-datangPatung atau Tugu Selamat Datang di depan Hotel Indonesia ini dibuat dalam rangka persiapan penyelenggaraan ASIAN GAMES ke IV di Jakarta pada tahun 1962. Tujuan pembangunan patung ini adalah untuk menyambut tamu-tamu yang tiba di Jakarta dalam rangka pesta olah raga tersebut. Patung tersebut menggambarkan dua orang pemuda-i yang membawa bunga sebagai penyambutan tamu.

Hotel Indonesia pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran dan langsung menuju ke hotel Indonesia yang menjadi tempat penginapan bagi mereka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel maka mereka akan mendapatkan patung Selamat Datang ini di depannya.

Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno dan design awalnya dikerjakan oleh Henk Ngantung yang pada saat itu merupakan wakil Gubernur DKI Jakarta. Patung terbuat dari perunggu. Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter. Sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 meter. Sementara tinggi voetstuk atau kaki patung adalah 10 meter dikerjakan oleh PN. Pembangunan Perumahan. Pelaksana pembuatan patung adalah team pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni. Pada saat pembuatan presiden Soekarno didampingi Duta Besar Amerika pada saat itu Mr. Jones beserta para menteri sempat berkunjung ke sanggar Edhi Sunarso. Pembuatan patung ini memakan waktu sekitar satu tahun. Diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1962.

hi3

Sumber:
- _______., Sejarah Singkat Patung-Patung dan Monumen di Jakarta, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Dinas Museum dan Sejarah, 1992.
- Harian Kompas, “Kabel Terbakar, Air di Bundaran HI Tak Bisa Mancur”, 20 Agustus 2004.

© arie saksono 2007

TAMAN SARI

1339301-tamansari_water_castle_by_goldenboy-yogyakartaBuilt in 1758 as a recreation area for  Yogyakarta’s royal family, the ‘Water castle’ of Taman Sari lies a little to  the south west of the kraton. Although mostly in ruins, brought about by time, neglect and an earthquake in 1867, Taman sari is still an interesting place to see. Visitor can walk through a maze of underground passageways leading down to dark and mysterious rooms, long since deserted. Two large bathing pools, apparently used by princesses from the palace, are still visible but no longer in use.
Taman Sari once had two long tunnels, one of whice was connected to the kraton, the other surfacing some distance outside the city, some say as  far away as Parangtritis. This second one was built as an escape route in the event of danger. Today, many batik artists live along Taman Sari’s narrow pathways.

taman-sarigambar dari:

http://cache.virtualtourist.com &

http://img244.imageshack.us

JALAN MALIOBORO (MALIOBORO STREET)

maliboro_tempo_doloe_1Malioboro is the most famous street in Yogyakarta. It runs north-south from the main rail way station towards the Kraton. Derived from the word malborough, the name of the street traces it’s origins back to the brief period of british rule at the beginning of the nineteenth century. In the day time the street is lined with colourfull market stalls selling all kinds of local handicrafts. Here it is possible to have a rubber stamp made in a few hours, or purchase an oil to promote hair growth made from an extract of crushed scorpions. Competing with the street seller are modern, glass fronted shops stocked with fashion goods, electronic gadgets, cassette tapes and quality batik. At night malioboro transform itself into what may be the world’s longest restaurant. A continuous row of flood stalls extends down both sides of the street, offering traditional delicacies like fried chiken or pigeon, and ofcourse nasi gudeg, until well into the early hours of the morning. Entertainment is provided by a variety of artists and street musicians, who help make every evening on Malioboro one of constant celebration.

malioboro2

gambar dari:

http://alexdannysantosa.blog.friendster.com &

http://smansa88.cmsindo.com

TUGU MONUMENT

tugu1950Situated on the crossroads at the northern and of jalan mangkubumi, the tugu monument was built on the order of sultan Hamengku Buwana I in 1755 to mark the founding of the city of Yogyakarta. Originally 25 meters high, it collapsed during the earthquake of 1867 and was rebuilt 20 years later. The height of the present monument is less than half that of the original one.

tugu

IMOGIRI-GRAVES OF THE KINGS

imogiri-makam-1Imogiri, which lies about twenty kilometers south of the city, is the site of the royal tombs of Mataram, Yogyakarta and Surakarta. It has a serene and peaceful atmosphere with many large, shady trees. The graves can be found on top of a hill, approached by 345 stone steps. Tradition has is that anyone who attempts to count the steps will always arrive at adifferent result. The tombs are divided into three main courtyards. The first, which occupies the centre of the complex, is the most important and contains the graves of Sultan Agung and the succeeding princes of Mataram. The other two, on either side of the central courtyard, are for the Susuhunans and Sultan of Solo and Yogya respectively.

makam-imogiri-2foto dari:

http://www.tasteofjogja.com &

http://www.kbmwbu.jawatengah.go.id

Ngada

Nagekeo

Manggarai

Lembata

« Entri lama