Tag

Kediri – Berbicara Kerajaan Kediri memang tak bisa dipisahkan dari sosok Sri Aji Jayabaya. Dari nama tersebut yang juga tak bisa dilupakan adalah Jongko Joyoboyo, ramalan sang raja untuk masa mendatang. Banyak pihak meyakini isi ramalan tersebut benar terjadi, meski saat ini naskah aslinya tidak dapat dijumpai lagi.

Supoyo, juru kunci Sendang Kamandanu membenarkan jika Jongko Joyoboyo adalah peninggalan dari Kerajaan Kediri yang saat ini sudah tak berwujud. Naskah aslinya yang diperkirakan ditulis di atas daun lontar diduga ikut lenyap bersamaan dengan hancurnya fisik kerajaan, sementara salinannya dalam lempengan besi diduga tersimpan di sebuah museum di Belanda.

“Kabarnya begitu. Itu dibawa oleh Belanda saat akan meninggalkan Indonesia, saat
mereka kalah dari Jepang dulu,” kata Supoyo saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Kamis (27/1/2011).

Supoyo menjelaskan, Jongko Joyoboyo adalah sekumpulan sabda dari Sri Aji Jayabaya yang ditulis oleh 2 orang pujangga kepercayaannya. Belakangan sabda tersebut lebih dikenal sebagai ramalan, karena banyak yang saat ini terbukti dan juga masa mendatang. Gambaran kejadian yang akan datang dalam Jongko Joyoboyo dipecah menjadi 3 masa, yaitu Kalisworo, Kaliyogo dan Kalisangsoro.

Meski sudah ‘tak berwujud’ Jongko Joyoboyo bukan berarti tidak dapat diketahui, karena petikan-petikannya sekarang banyak digandakan dan diperjual belikan secara bebas.

“Kalau yang petikan biasanya sudah diubah jadi syair-syair Jawa, seperti tembang. Ada yang kinanthi, dandang gendhis dan lain sebagainya,” jelas Supoyo.

Untuk contoh tembang kinanthi yang termuat di petikan Jongko Joyoboyo, masih kata Supoyo, diantaranya adalah Riwayat kanthi daharu, lelakone jaman wuri, kang badhe
jumeneng Nota amengku Bawono Jawi, kusumo trahing Narendro kang sinung panggalih suci. Tembang tersebut banyak disebut merupakan ramalan untuk pemimpin bangsa Indonesia mendatang, yang bisa menjadikan negara ini makmur sejahtera.

“Tembang itu kalau diartikan kurang lebihnya adalah riwayat jaman dulu yang sudah terjadi. Yang akan memimpin tanah Jawa adalah orang yang benar-benar keturunan ratu
(pemimpin) yang memiliki pemikiran bersih,” jelas Supoyo.

Yang menarik Jongko Joyoboyo juga dipercaya sudah meramalkan sejumlah bencana alam besar di Indonesia jauh sebelum bencana itu sendiri datang. Diantaranya adalah munculnya lumpur Lapindo di Sidoarjo, serta dampak yang akan diakibatkannya di masa
mendatang.

Ramalan untuk bencana lumpur Lapindo dipercaya tertuang dalam tembang Dene wonten daharu saksampune hardi Merapi, gung kobar saking dahono, segar tengahiro kadi, lepen mili toyo lahar, ngalor ngetan njong pesisir. (Apabila ada bencana setelah letusan Merapi, dari kobaran api tanah terbelah, di sungai mengalir lahar (lumpur), ke arah utara dan timur sampai ke pesisir).

“Tembang itu tepat kan. Lumpur Lapindo terjadi setelah letusan Gunung Merapi tahun
2006, dan alirannya ke timur dan utara sampai nanti ke pesisir,” pungkas Supoyo.

Ket Foto: Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten
Kediri.

(bdh/bdh)
sumber:

http://surabaya.detik.com/read/2011/01/27/132007/1555801/475/jongko-joyoboyo-peninggalan-tak-berwujud-yang-terasa-nyata?y991101465