Tag

,

Warga Dusun Talang Kubangan, Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menemukan gua batu diperkirakan dari zaman Mesolitikum. Kondisi gua yang berada di daerah tebing terjal dan hutan rimba ini, memiliki dua pintu masuk dan tiga lantai menyerupai hamparan batu asahan. Namun kondisi ruangan sudah banyak menyempit, tertimbun reruntuhan batu akibat faktor alam. Demikian juga dengan sejumlah tulisan dan ukiran menyerupai tapak manusia yang sudah tertutup timbunan batu, sehingga sulit untuk dilihat dengan jelas. Namun lantai pintu masuk masih cukup rapi, dipenuhi dengan susunan pecahan batu mirip dengan pecahan genteng. Supaya bisa masuk ke dalam ruangan sepanjang sekitar 25 meter ini, hanya dapat dilalui satu orang, mengingat lebar ruangan hanya sekitar 50-70 centimeter. “Penemuan gua batu yang berada di dalam hutan belukar sekitar 50 meter dari lokasi perkebunan kopi, dan warga setempat lebih mengenal dengan ’Gue Rie Tabing’. Sebetulnya gua ini dahulunya cukup rapi dan semua ruangan masih dapat dimasuki termasuk guratan berupa tapak kaki manusia yang berada di lantai dua gua tersebut, tapi akibat faktor alam semuanya sudah rusak,” kata Manto, Ketua RW 04 Dusun Talang Kubangan, Kecamatan Dempo Selatan. Sekitar gua ini cukup banyak bebatuan cadas dan jurang dengan kedalaman mencapai ratusan meter, termasuk batu hamparan, dan ada juga bertuliskan seperti garis-garis. “Gua ini dahulunya menurut cerita sesepuh daerah ini pernah dihuni pertapa Rie Tabing Gua, memiliki dua pintu ukuran lebar 50-70 centimeter dan tinggi 170 cm, dengan tujuh ruangan termasuk yang berada di bawah tanah,” ujar dia. Namun untuk mengetahui isi dan kondisi ruangan, dibutuhkan orang yang ahli, karena kami tidak bisa masuk ke dalam ruangan bawah tanah sedalam dua meter tersebut,” kata dia lagi. Kalau melihat kondisi fisik batu termasuk membandingkan dengan bebatuan di perbukitan itu, tidak mungkin kondisi gua tersebut terjadi dengan sendirinya akibat faktor alam. Selain itu, semua ruangan tersusun rapi dan pada lantai untuk masuk ke setiap ruangan dihiasi dengan pecahan batu yang tersusun rapi. Pada ruangannya juga ada yang bertingkat, seperti tempat tidur terbuat dari batu pula. “Sebetulnya di daerah ini cukup banyak peninggalan sejarah puyang atau nenek moyang dahulu, tapi karena warga tidak mengerti sehingga dibiarkan dan hanya menjadi cerita setiap ada pertemuan. Baru setelah diungkap lewat media oleh ahlinya tenyata memiliki nilai sejarah yang tinggi,” kata dia. Ketua RT 010 Talang Kubangan, Firman, menyebutkan pula bahwa di sekitar daerah seluas 50 hektare itu banyak terdapat peninggalan nenek moyang zaman dahulu, seperti batu tapak kaki, batu bertulis, gua dan tempat tidur batu. Hanya saja karena ketidaktahuan masyarakat, penemuan ini hanya menjadi bahan cerita dan sejarah sakral masa lalu, kata dia lagi. Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indriastuti, mengatakan bahwa penemuan itu cukup luar biasa dan menghebohkan, karena selama ini hunian masa Paleollitikum diketahui hanya ada di daerah Kecamatan Kikim, Lahat, dan temuan peninggalan zaman Mesolitikum berupa gua di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Menurut dia, secara sepintas karena lantai gua kering, kemungkinan bisa digunakan untuk hunian di masa lalu. Namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, ujar dia, untuk menemukan lapisan budaya adanya aktivitas pendukung manusia yang hidup di gua tersebut pada masa lalu, seperti sisa-sisa arang, subsistensi (aktivitas mencari makanan), aktivitas penguburan, perbengkelan, pembuatan alat batu, dan peralatan manusia zaman batu, termasuk peralatan berupa kapak batu, serpih, serut, dan alat-alat lainnya. “Apabila melihat wilayah Sumsel yang mempunyai pegunungan kapur atau karst, seperti Bukit Barisan, sangat memungkinkan adanya aktivitas kehidupan gua, seperti yang sudah ditemukan di wilayah karst Desa Padang Bindu, Kabupaten OKU,” kata Kristantina pula. Terdapat sekitar 13 gua hunian dan di wilayah karst dataran tinggi Kerinci di Provinsi Jambi, dan untuk menjaga kelestarian dan keasliannya perlu dukungan dari masyarakat sekitar serta pendataan oleh Balai Pelestarian dan Perlindungan Purbakala (BP3) Jambi, kata dia.

sumber:

http://koranbaru.com/warga-temukan-gua-zaman-mesolitik/