Tag

Sebagai bekas ibukota kerajaan besar hampir 5 abad yang lalu, secara fisik wajah Kotagede sudah sangat banyak berubah, bahkan sebagian besar diantaranya telah musnah termakan jaman. Tidak ada data visual yang pasti bagaimana bentuk dan tata ruang Keraton Mataram pada jaman itu, termasuk dimana semestinya bangunan-bangunan itu berada. Rekonstruksi imajiner tentang Keraton Mataram di Kotagede hanya bisa diperoleh menggabungkan data visual dari artefak dan situs yang masih ada, dengan sejumlah catatan-catatan sejarah, serta pola tata ruang kota yang hanya tinggal toponimnya saja.

Meski tidak banyak yang tersisa, namun nuansa masa lampau dan karakteristik khas Kotagede sebagai sebuah kota besar dan ramai masih sangat terasa. Sifat-sifat kekotaaannya masih tetap terpelihara. Kehidupan masyarakatnya tetap non agraris. Mata pencaharian masyarakatnya yang khas masih tetap bertahan, seperti kerajinan, pertukangan, perdagangan dan usaha sejenis yang pada jamannya memang menjadi bagian dari kehidupan Keraton jaman itu.

Lokasi dan keramaian Pasar Kotagede, konon tidak banyak berubah sejak hampir 5 abad yang lampau, pada saat Keraton Mataram masih dalam masa kejayaannya. Tidak mengherankan jika kemudian Kotagede juga dikenal orang dengan sebutan Sargede atau Pasar Gede, yang artinya pasar yang besar dan ramai. Sesuai dengan sejarahnya, pasar di Kotagede ini sudah ada sebelum Pasar Beringharjo, salah satu pasar tertua di Yogyakarta, bahkan sudah ada jauh sebelum Kota Yogyakarta berdiri.

Kotagede tumbuh menjadi kawasan spesifik. Orang juga menyebutnya sebagai Kota Perak, karena banyaknya pengrajin perak yang menjadi identitas khas yang dikenal hingga mancanegara. Kehidupan ekonomi telah menjadi keistimewaan Kotagede. Masyarakat Kotagede yang mayoritas beragama Islam dikenal mempunyai etos kerja yang tinggi. Kemampuan berdagang ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Sejak jaman dahulu, orang-orang dari Golongan Kalang di Kotagede sudah menjadi konglomerat pribumi yang hebat. Kejayaannya mereka di masa lampau masih dapat disaksikan hingga sekarang. Ukir-ukiran yang dipahatkan pada kerangka bangunan rumah-rumah orang-orang Kalang menunjukkan kemewahan pada zamannya.

Gempa bumi besar yang melanda kota Yogyakarta pada bulan Mei tahun 2006, telah sedikit merubah wajah Kotagede. Kerusakan-kerusakan menimpa sejumlah bangunan bersejarah, baik yang sudah ada sejak jaman kejayaan Keraton Mataram maupun yang dibangun pada masa-masa sesudahnya. Kerusakan yang diakibatkan oleh bencana ini sudah tentu juga mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi warga Kotagede.

Meski telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya, upaya pelestarian Kotagede sebagai situs peninggalan Dinasti Mataram Islam, perlu dilakukan secara sistematis dan ilmiah dengan perhatian yang jauh lebih serius. Jika tidak, bukan mustahil Kotagede akan mengalami nasib yang sama sebagaimana Keraton Kasultanan Demak, Keraton Kasultanan Pajang, Kedhaton Kerta dan Plered, serta Keraton Kartosuro. Merana, dan hanya tinggal nama.

oleh:

Agus Yuniarso

Jurnalis media online dan konsultan media. Berdomisili di Kawasan Wirosaban, Yogyakarta.

dicopy dari:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/06/kotagede-wajahmu-kini/