Tag

, , , , ,

Kebudayaan adalah wujud dari hasil olah cipta, rasa, dan karsa manusia yang merupakan ujud dari usaha manusia untuk mempertahankan eksistensinya di muka bumi. Wujud kebudayaan yang tercipta dari olah cipta, rasa dan karsa manusia antara lain berbagai  macam bentuk tari-tarian, nyanyi-nyanyian, aturan-aturan kehidupan sampai berbagai macam bentuk lambang atau simbol yang selalu menyertai kehidupan manusia seperti simbol kehidupan, kekuasaandan symbol simbol yang lainnya.

Setiap wujud kebudayaan mengandung tanda-tanda ikonis yang menyertainya. Sehingga seolah-olah manusia tidak bisa lepas dalam kehidupannya dari berbagai macam bentuk ikonis. Ikonissitas sebagai salah satu gejala semiotis memang terdengar sedikit asing karena kita jarang menggunakan kosakata ini, namun jika kita telaah lebih jauh betapa kehidupan kita sangat lekat dengan berbagai macam bentuk ikonis. Bentuk ikonisitas dari tahun ketahun akan senantiasa bertambah baik dari segi jumlah maupun juga dari segi pemaknaannnya, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat pada zaman itu.

Ditengah kehidupan globalisasi yang seakan tanpa ada batasnya ini menjadi tantangan berat tersendiri bagi berbagai bentuk kebudayaan yang telah ada sejak zaman nenek moyang yang terwariskan sampai generasi sekarang ini. Agar beban berat kebudayaan peninggalan nenekmoyang terkurangi alangkah baiknya kita mengenal sekelumit peninggalan nenek moyang yang sarat akan tanda-tanda ikonis.

Gayung (Siwur) adalah pokok bahasan kita kali ini. Siwur adalah suatu alat peninggalan nenek moyang, alat tersebut digunaan untuk mengambil air. Siwur kalo kita lihat atau kita nilai berdasarkan harganya tidaklah seberapa, tetapi jika kita amati secara seksama dengan menggunakan mata hati maka akan mempunyai makna yang sangat dalam dan siwur sendiri merupakan suatu symbol.

Simbol-simbol dibalik siwur antara lain nek ora isi ora ngawur yang artinya orang berilmu tidak boleh sombong, congkak, atau ngawur. Siwur terbuat dari tempurung kelapa dan tangkainya dari kayu (kajeng bhs, Jawa), pada tempurung agar tangkainya tidak lepas maka diberi kancing/panthek. Antara tempurung, tangkai kajeng dan kancing ada arti atau maknanya.

  1. Tempurung  (bathok kulit kelapa); berasal dari pohon kelapa yang mempunyai manfaat dari akar samapai ujung daun. Dengan ini terkandung maksud  bahwa kita diajak untuk berfikir dan merenungkan bahwa hidup kita didunia harus bermanfaat, berguna baik dari gerak lahir dan batin, dari pola tindak, pola pikir, samapai ucapan. Seperti filosofi pohon kelapa yang bermanfaat dan berguna bagi siapa saja tanpa memandang golongan, asal-usul dan sebagainya.
  2. Tangkai; maksudnya adalah manusia adalah manusia hidup harus mempunyai pegangan hidup. Tangkai terbuat dari kayu (kajeng) yang mempunyai arti Uwong urip kudu duweni kekajengan/karep untuk keselamatan lahir dan batin.
  3. Kancing; mempunyai maksud bahwa manusia harus mempunyai kekancingan /identitas, prinsip hidup yang tidak mudah tergoyahkan walau dalam situasi dan kondisi apapun juga, kancing juga dapat diartikan sebagai alat pemersatu dengan tidak membedakan suku, agama, keturunan, asal-usul, ras, serta tidak membedakan derajat atau pangkat.

Dengan demikian Siwur memepunyai arti filosofi bahwa manusia tidak cukup pandai, pintar, atau berilmu pengetahuan tetapi lebih jauh dari itu orang jawa menyebutnya berngelmu atau linuwih, ngerti sak durunge winarah, jadi manusia yang mempunyai tataran atau tahapan hidup  sempurna yang tanggap atau peka terhadap situasi dan kondisi lahiriah maupun batiniah juga dapat diartikan bahwa kesempurnaan hidup seseorang sudah sampai tataran Purna Jati.

Siwur merupakan symbol manusia  yang pandai, pintar dan berilmu. Tetapi ilmunya tidak untuk dirinya sendiri, serta merupakan simbolnyang suka melaksanakan laku prihatin, mencari keseimbangan lahir dan batin, mempunyyai prinsip hidup kuat.

Maka apabila kita melihat materi siwur, bathok (tempurung), merupakan gambaran kepala manusia yang menyimpan ilmu pengetahuan (Ngilmu). Kayu merupakan badan kurus merupakan gambaran selalu melakukan laku bathin (prihatin) atau mencegah makan, sedangkan Kancing (Panthek) berangnya kecil berada didalam tempurung tetapi kuat yang dapat sebagai kancing dengan tangkai/pegangan sebagai gambaran bahwa kancing merupakan unsure pemersatu dan perekat.

Makna siwur dalam bahasa jawa dapat diartikan. Di kirata bahasa siwur diartikan Si dan Wur. Si berarti isi, artinya isi ilmu; baik ilmu agama, Ilmu pengeahuan umum, dan isi berupa materi (kekayaan). Wur berarti juga wur-wur (suka memberi). Kita hidup didunia ini oleh Tuhan YME diberikan kelebihan misalnya materi/harta untuk diamalkan pada fakir-miskin.

Berbagai fungsi lain siwur adalah;

  1. Siwur digunakan pada upacara adat siraman pada saat wanita hamil pertama kali genap tujuh bulan.
  2. Digunakan untuk memandikan orang yang meninggal dunia. Terkandung makna bahwa hidup didunia yang diberikan tuhan YME hanya dua hari yaitu, kelahiran dan kematian.

Sebagai makhluk yang diberi nama manusia, yang merupakan mahluk tuhan yang paling sempurna, dicintai oleh Tuhannya dan mempunyai derajat tinggi. Oleh karena itu manusia harus siap untuk mengisi dan membekali diri mulai dari hari kelahiran menuju hari kematian. Untuk lahir kita sudah ada dan untuk kematian tidak seorangpun tahu.  Untuk itulah dalam hidup harus bisa membedakan baik dan buruk, ngerti, ngroso, nglakoni, (Menyadari, Menginsafi, dan melakukan). Menyadari bahwa kita hidup didunia diciptakan oleh tuhan Yang Maha Esa, Menginsafi atau merasa bahwa kita hidup diberikan berba gai kebutuhan hidup, dan melaksanakan atau melakukan yaitu melaksanakan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangannya, karena sadar dan percaya bahwa setelah kehidupan di dunia ada kehidupan yang abadi yang disebut alam abadi atau alam akhirat.

Disana manusia akan memepertanggung jawabkan semua perbuatan prilakunya di dunia. Bagi yang berbuat sebaik-baiknya  maka akan ditempatkan di Surga namun jika sebaliknya maka akan mendapatkan hukuman di Neraka. Marilah kita menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  Hal ini penting karena kita mempunyai lima perkara sebelum lima perkara;

  1. Saat lapangmu, sebelum sempitmu
  2. Saat kayamu, sebelum miskinmu
  3. Saat sehatmu, sebelum sakitmu
  4. Saat mudamu sebelum tuamu
  5. Saat hidupmu, sebelum matimu.

Sumber:

Buletin FORCIBB (Forum Cinta Budaya Bangsa)

Edisi-51, Desember 2009