Tag

, , , ,

Sumber Foto: KR-Effy Widjono Putro

GBPH Prabukusumo melempar udhik-udhik di bangsal Ponconiti Kraton, menjelang prosesi miyos gangsa, jumat 19/02/2010.

Jelang prosesi upacara miyos gangsa sekaten tahun Dal 1943 Jum’at 19/02 malam di bangsal Ponconiti menjadi daya tarik bagi masyarakat dan para pedagang pernak-pernik khas sekaten seperti kinang, sega gurih, pecut, hingga endog abang.

Sambil menanti upacara Udhik-Udhik dilaksanakan biasanya banyak warga yang melakukan Caos Dhahar dengan membawa bunga, kemenyan, kinang dan uang sekedarnya untuk wajib, mereka memohon doa supaya diberikan kelancaran rezeki, kebahagiaan, dan keselamatan.

Prosesinya diawali setelah waktu shalat Isya diawali dengan membunyikan dua gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga yang dibunyikan oleh 32 orang abdi dalem. Mereka membawa 6 gending dengan ragam Jawa dan Arab. Para abdi dale mini menggunakan ageman beskap hijau lengkap dengan aksesorinya.

Saat prosesi menyebar udhik-udhik dimulai warga pun mendekat ke bangsal Ponconiti tempat rayi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat melemparkan udhik-udhik, berupa uang logam, beras, dan bunga.

Prosesi miyos gangsa itu sendiri baru dimulai pada tengah malam. Diawali dengan membawa Kyai Guntur Madu Nagawilaga dari bangsal Ponconiti menuju Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman. Di Pagongan Lord an Kidul gamelan dibunyikan sehari tigakali kecuali hari Jum’at sampai dibawa kembali ke kraton pada kondur Gangsa malam menjelang Grebeg Mulud.

Menurut pengirit pasedahan KHP Kridha Mardowo Kraton Yogyakarta, KRT Wasesowinoto kepada KR. Mengungkapkan bahwa perayaan sekaten kali ini yang bertepatan dengan tahun dal 1943 terasa cukup istimewa karena tahun dal yang menurut kalender Jawa sultan Agung Hanyokrokusumo tepung gelang siklus datangnya tahun dal adalah adalah 1 windu, dimana ada sejumlah prosesi tertentu yang hanya di lakukan pada perayaan sekaten pada tahun dal seperti adanya gunungan Bromo.

Dalam prosesi grebeg Kraton Yogyakarta akan menyiapkan 7 gunungan, satu diantaranya ialah gunungan Bromo. Dimana hajat dale mini setelah di doakan akan dibagikan pada masyarakat sebagai wujud dari Sodakoh. Namun untuk gunungan Bromo akan dibawa pulang ke Kraton untuk di ujungke Ngarsa dalem baru di bagikan kepada masyarakat.

Malam sebelumnya setelah maosan risalah Kanjeng nabi Muhammad SAW, Ngarsa Dalem akan melakukan prosesi Jejak Bata sebagai symbol perlindungan diri saat HB Isaat dikepung penjajah Belanda.

Materi diambil dari KR, edisi sabtu wage 20 Februari 2010 (6 Mulud 1943)