Tag

, ,

Selasa, 24 November 2009 | 07:48 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar – Guna melindungi kearifan budaya tradisional, sumber daya genetik, dan cerita rakyat, Indonesia melalui Departemen Luar Negeri (Deplu) menggalang dukungan bagi adanya kerangka hukum internasional.

Salah-satunya dengan memfasilitasi pertemuan 20 negara-negara berkembang yang tergabung dalam Like Minded Countries.

Menurut Direktur Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Deplu Damos Dumali Agusman, pertemuan ini diharapkan dapat melahirkan draft awal instrument hukum internasional yang menjadi dasar negoisasi dalam seri pertemuan WIPO. “Ini akan menjadi suatu kemajuan karena sebelumnya selalu ditolak oleh negara-negara maju,” ujarnya, Selasa (24/11).

Adapun hasil negoisasi di Forum WIPO diharapkan dapat diserahkan kepada sidang Majelis Umum WIPO pada 2011. Kemudian, kata Agusman, akan didorong untuk menjadi bahan pertimbangan Sidang Majelis Umum bagi penentuan penyelenggaraan Diplomatic Conference pada 2012 guna mengadopsi naskah traktat.

Traktat itu akan memungkinkan negara berkembang melindungi kekayaannya dari pencurian, penyalahgunaan, dan eksploitasi komersial yang merugikan. Negara berkembang, terutama masyarakat lokalnya, dapat memperoleh manfaat ekonomi dan moral dari pemanfaatan secara komersial. “Selama ini belum ada aturan yang jelas sehingga cenderung merugikan kita,” terangnya.

Wakil dari delegasi Afrika di pertemuan itu, Elhaji Ibou Boye, menegaskan perlunya kesamaan pandangan dari negara-negara berkembang. Saat ini banyak kasus kekayaan budaya tradisional sudah dipatenkan oleh kalangan pengusaha negara maju tanpa kompensasi apa pun bagi komunitas yang memeliharanya.

Bahkan ketika akan dimanfaatkan kembali, kalangan komunitas tradisional menghadapi ancaman hukuman.

Dia juga mencontohkan kasus pengembangan virus menjadi vaksin yang jenis virusnya diambil di negara-negara berkembang. Setelah dikembangkan di negara-negara maju, kemudian vaksin itu dijual mahal di negara berkembang.

“Itu adalah situasi yang tidak adil karena virus termasuk sebagai kekayaan genetik kita,” tegasnya. Ada juga kasus-kasus pengembangan tanaman tertentu untuk dijadikan obat dan diambil dari negara berkembang.

ROFIQI HASAN