Tag

, , , , , ,

TEMPO Interaktif, Gunung Dlepih. Ke sanalah Fendi Siregar menuju. Gunung di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ini bagi penghayat kejawen adalah salah satu tempat angker. Di situlah para pendiri dinasti Mataram, yakni Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan Pangeran Mangkubumi, sering bertapa. Di sebuah tempat bernama Sela Gilang, misalnya, dipercaya Panembahan Senopati bertemu dengan Kanjeng Nyai Roro Kidul. Ke situlah sang fotografer menuju. Kameranya menjepret seorang lelaki yang terjun ke danau.

Fendi tertarik ke sana karena Gunung Dlepih disebut dalam serat Centhini. Fotografer senior ini memiliki proyek pribadi yang unik. Ia berusaha mendatangi lokasi-lokasi yang disebut dalam Centhini, lalu memotret suasana yang ada di situ. Centhini boleh dibilang ensiklopedia kebudayaan Jawa.

Centhini terbit pada 1850. Ia lahir dari ide Pangeran Adipati Anom (Pakubuwono V). Sang Pangeran mengutus tiga pujangga keraton Raden, yakni Ngabei Ranggasutrasna, Yasadipura I, dan Raden Ngabei Sastradipura, melakukan perjalanan ke seluruh Jawa dan membuat kisah petualangan berdasarkan catatan-catatan perjalanan.

Sebagai produk keraton, sesungguhnya Centhini adalah “kitab aneh”. Centhini tidak berisi kisah tentang kejayaan keraton, tapi justru seputar pengembaraan kaum pembangkang musuh-musuh sultan. Dengan latar zaman Sultan Agung pada abad ke-17, Centhini merupakan kisah pelarian anak-anak Sultan Giri Prapen–Jayengresmi, Jayengsari, dan Niken Rancangkapti–menghindari pengejaran agen-agen rahasia Sultan Agung.

Mereka tercerai berai. Mereka masuk ke desa-desa terpencil, mendaki lereng-lereng, bersembunyi di hutan-hutan, berdiam di reruntuhan candi. Mereka belajar ilmu agama kepada berbagai kiai dan para pertapa yang ditemui. Belajar ilmu pengobatan, ilmu arsitek, sampai ilmu erotika Jawa. Setelah memiliki maqom tinggi, Jayengresmi mengubah namanya menjadi Syekh Amongraga.

Lokasi-lokasi yang disebut Centhini sebagian besar masih ada sampai sekarang. Pada dasarnya Centhini adalah sebuah kisah yang ditulis dengan semangat reportase ala jurnalisme. Cara penggambarannya sangat deskriptif.

Bila melukiskan sebuah desa, kitab itu sampai lengkap menyebut aneka pohon yang ada di sana. Berbekal panduan Centhini, Fendi Siregar menjelajah Jawa. Di desa-desa tertentu ia masih melihat suasana seperti yang dipaparkan dalam Centhini.

Di Gunung Dlepih itu, misalnya, dalam Centhini, tokoh Amongrogo melihat banyak binatang buas, seperti harimau. Di pohon bergelayutan kera, orang utan, dan lutung. Tapi Ki Among Raga tidak takut. Among Raga terjun ke air. Tentu harimau kini tak ada. Namun, tuk atau sungai tempat Syekh Among Raga berenang kemungkinan besar adalah tuk yang dipotret Fendi.

Jepretan Fendi yang dipamerkan di Salihara tentu hanya sebagian kecil dari yang ia buat. Ia telah melakukan perjalanan ini bertahun-tahun. Setiap ada kesempatan ke pelosok Jawa, ia selalu mengingat Centhini. Jepretannya menghasilkan ribuan foto. Fotografer yang terlibat Gerakan Seni Rupa Baru pada 1980-an ini boleh disebut seperti melakukan proses menafsirkan ulang Centhini. Boleh dibilang ia adalah Syekh Among Raga baru.

Di Sela Mangkeng, Fendi memotret gua yang dalam khazanah mitologi Jawa menjadi tempat bertapa seorang perempuan pendeta bernama Kili Suci. Fendi mendaki Gunung Ijen, Gunung Kelud, sampai Gunung Bromo. Yang menarik, di setiap foto, Fendi menempelkan teks-teks yang diambil dari Centhini, sehingga orang tahu konteksnya. Ketika memotret panorama Tengger yang merah, misalnya, ia mengutip pertanyaan Raden Jayengsari saat tiba di Tengger dan bertemu dengan sesepuh setempat, Ki Buyut. “Ki Buyut, di sebelah sana saya lihat puncak gunung menyala di malam hari. Apakah itu?”

Fendi juga menyusuri candi-candi, mulai candi penataran sampai sukuh. Ia mengabadikan kehidupan para penari ledhek, penari Tayuban. Kameranya menangkap bagaimana di balik tobong juga ada kehidupan transeksual atau lesbi. Memang Ben Anderson suatu kali pernah mengungkap Centhini adalah satu-satunya kitab kuno di Nusantara yang gamblang mengungkap sodomi. Fendi juga sempat mengeksplorasi dunia keris dan memotret Ki Djeno Harumbrojo di Yogya–seorang empu generasi ke-15 empu-empu Majapahit. Pendeknya, Fendi berusaha menyajikan khazanah Centhini. Dunia Centhini yang suci bercampur dengan yang erotis.

Fendi bukan satu-satunya orang yang terpesona oleh sastra Jawa kuno. Nama lainnya adalah Nigel Bullough. Lelaki asal Inggris yang berganti nama menjadi Hadi Sidomulyo itu juga melakukan napak tilas. Hanya, kitab Jawa yang ia jadikan rujukan lebih tua daripada Centhini, yaitu kitab Negara Kertagama karangan Empu Prapanca. Seperti Centhini, yang merupakan reportase perjalanan, pada dasarnya Negarakertagama adalah sebuah laporan jurnalisme. Negarakertagama berisi reportase perjalanan Raja Hayam Wuruk pada 1935.

Ini sebuah perjalanan dinas Hayam Wuruk selama tiga bulan menyusuri daerah-daerah kekuasaan Majapahit. Hayam Wuruk masuk ke dusun-dusun di Malang, Pasuruan, Bondowoso, Jember, Lumajang, Probolinggo, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, sampai Madiun. Nigel Bullough menapaktilasi perjalanan itu. Ia membuat sebuah buku tentang pengalamannya itu. Ia juga pernah memamerkan foto-foto perjalanannya.

Suatu kali mungkin menarik menyelenggarakan pameran bersama antara Nigel Bullough dan Fendi. Yang satu menyusuri rute Centhini, yang lainnya menyusuri rute Negara Kertagama.

SENO JOKO SUYONO

di copy dari:

http://tempointeraktif.com

Selasa, 01 Desember 2009 | 07:23 WIB