Tag

, , ,

Pembauran dua budaya terjadi dalam Gala Opening ajang fashion akbar Jakarta Fashion Week. Dua desainer ternama Indonesia dan dua desainer ternama asal India memamerkan karya terbaik mereka. Desainer Indonesia yang menyumbangkan karyanya adalah Sebastian Gunawan dan Priyo Oktaviano. Sedangkan perwakilan dari desainer India adalah Tarun Tahliani serta Malini Ramani. Yang menarik, masing-masing desainer dari Indonesian harus menciptakan karyanya dari kain khas India, dan begitu pula sebaliknya. Di babak pertama Sebastian Gunawan (Seba) menampilkan 16 rancangannya. Nuansa hitam mewarnai rancangan Seba kali ini. Corak bunga-bunga warna-warni menjadi aksen pemanis dalam setiap rancangannya. Seba memilik Pashmina (selendang lebar) khas India, Khasidah. Khasidah adalah selendang dengan motif sulam warna-warni. Kain-kain istimewa itu diubah Seba menjadi aneka dress cantik dan feminin. Seba juga menciptakan aneka jumpsuit yang menurutnya akan menjadi tren di tahun 2010 mendatang. Babak kedua diisi oleh rancangan desainer India Malini Ramani. Malini menciptakan aneka gaun pendek dari songket, sarung Bugis bermotif kotak-kotak, serta kain tenun warna-warni. Malini juga membuat gaun panjang menyerupai kaftan. Malini juga membuat jaket pendek serta jaket army dengan banyak kancing dan pading bahu yang tinggi. Selanjutnya desainer muda Priyo Oktaviano menampiklan karyanya. Berbeda dengan desainer yang lain, Priyo membagi karyanya menjadi dua sesi yaitu ‘Eden’ yang berati ‘Surga’, serta ‘Earth’ yang berarti ‘Bumi’ Dalam ‘Eden’ Priyo menggunakan kain tenun India yang berbahan dasar putih. Bak para dewi, model-model tampil dengan busana beraksen ikatan.Ikatan itu memberi kesan alami dan natural. Sedangkan di akhir babak seorang dewi keluar dengan gaun dari sari India berwarna putih. Di sesi ‘Earth’ terlihat perubahan yang drastis. Kain yang dipakai Priyo kini berwarna hitam. Potongan-potongan bajunga terkesan lebih tegas dan kasar, menggambarkan hidup di dunia yang penuh kekacauan. Bulu-bulu hitam serta aneka aksesoris dari bahan metal dipilih Priyo untuk memberikan aksen ‘dark’. Fashion show ditutup oleh karya Tarun Tahliani. Tarun memilih kain batik dari Allure yang khas. Permainan warna batik Allure memberikan suasana yang cukup semarank. APalagi Tarun menghadirkan aneka gaun maxi yang cantik. Gaun-gaun itu ia padukan dengan vest pendek, sehingga berkesan modern. Tarun juga menggunakan songket yang ia jadikan seperti kain sari di tubuh para model. Dapat terlihat dari karya Tarun, kain khas Indonesia pun tak kalah dengan kecantikan kain negara lain. Tak hanya rancangannya yang merupakan perpaduan dua budaya, hiburan selingannya pun merupakan kesenian dari Indonesia juga India. Miroto di awal acara menyajikan tarian topengnya yang khas. sedangkan di penghujung acara, para penonton dihibur dengan tarian perut khas India yang eksotis.

detikcom – Minggu, 15 November

http://www.detiknews.com