Tag

Benar kiranya jika ada anggapan bahwa setiap etnik memiliki kearifan yang perlu dimengerti, dipahami dan di kembangkan oleh komunitas itu sendiri maupun oleh komunitas lainnya. Terlebih globalisasi sekarang ini tantangan untuk mengembangkan kearifan budaya local banyak mendapatkan tantangan. Yogyakarta memang kota budaya dimana segenap senitradisi sampai sekarang masih tetap terjaga akkan kelestarainnya, tidak bias terlepas begitu saja dari dampak globalisasi apalagi visi kota yogyakarta menuju tahun 2020 menjadi pusat kebudayaan terkemuka sekaligus mewujudkan Memayu Hayuning Buwana.

Seperti yang dilansir oleh harian kedaulatan rakyat edisi Jumat 31 Juli 2009 dalam liputan pembukaan gelar apresiasi Budaya Etnis di halaman mmonumen serangan Oemom 1 maret yogyakarta (selasa. 29 Juli 2009). Acara yang bertemakan Aktualisasi nilai-nilai kearifan local memperkuat jatidiri Bangsa di era Global, menampilkan tari maddupa Bosara (Prop. Sulsel), Nyamut Onu bage’ik (Kalimantan Barat), Muli mekhanai (lampung), dayung (Papua), dan Senam patrol jember (jatim).

Kegiatan ini menurut kepla bidang tradisi, seni, film dinas kebudayaan yogya, Nur Satwika adalah untuk meningkatkan apresiasi budaya antar etnis, menumbuhkan sikap toleransi akan kesetaraan dan hak hidup yang sama bagi semua kebudayaan yang berbeda, sekaligus media informasi dan promo dari daerah untuk memupuk potensi serta meningkatkan persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik Indonesia.

Sungguh kegiatan yang patut diacungi jempol, betapa tidak inilah wujudnyata dalam usaha meningkatkan ketahanan nasional dalamrangka menjawab tantangan global yang menuntut kedinamisan dalam segala aspek, tak terkecuali seni dan budaya. Tentunya hal ini dapat terwujud karena kita sebagai bangsa merasa bangga akan kekayaan budaya yang kita miliki, dengan rasa iklas kita mengeksplorasi kemampuan diri, mempelajari sejarah dan mengembangkannya. Selamat dan sukses, amin.