Tag

, , , ,

museum-adammalikOleh
Sihar Ramses Simatupang

JAKARTA–Rumah yang sekaligus menjadi Museum Adam Malik itu penuh dengan pelayat dari berbagai kalangan, ketika tersiar kabar janda mantan Wakil Presiden Indonesia kedua tersebut, Nelly Adam Malik, wafat pada Minggu (25/3). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono, serta Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah pun ikut hadir dan menyatakan rasa belasungkawa.
Nelly Adam Malik sempat dirawat di RS MMC (Rumah Sakit Metropolitan Medical Center) Kuningan, Jakarta, akibat jantung yang melemah setelah stroke yang dideritanya. Kepergiannya seakan mengingatkan lagi tentang perannya dalam museum suaminya, tokoh nasional almarhum Adam Malik. Rumah yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 29, Jakarta Pusat, itu dipenuhi karangan bunga di sepanjang pelatarannya. Namun rumah itu kini kembali sepi ketika SH datang ke sana, Rabu (28/3).
“Museum sudah tidak aktif beberapa tahun ini, sebagian sudah di (Museum) Fatahillah, sebagian lagi ada di keluarga.

Museum ini sudah lama tak dipakai,” kata Hetty Gustiati, istri dari Otto Malik—putra Adam Malik—ketika berpapasan dengan SH di Museum Adam Malik yang kini menjadi rumah keluarga itu.
Nelly, perempuan kelahiran 15 Mei 1925 itu, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata di sebelah makam suaminya dengan meninggalkan tiga dari lima anak—dua anaknya yang lain sudah meninggal—dan 17 cucu.
Nelly mengenyam pendidikan terakhir di HIS MULO Middelbare Nyverheids School/NISVO dan aktif pada kegiatan sosial, pendidikan serta politik di berbagai organisasi di antaranya Ketua Harian Gabungan Demokrasi Pancasila Sekber Golkar (1968-1971), Wakil Ketua I DPP Golkar (1973-1978), Anggota DPR/MPR (1971-1978) dan Penasihat Dharma Wanita (1978-1979).
Hari-hari terakhir Nelly memang dihabiskan untuk mengurusi Yayasan dan Museum Adam Malik guna mempertahankan kelestarian museum tersebut. “Ibu dulu aktif mengelola. Saya yang menjadi guide di museum itu. Dulu kepala museum yang menangani, yaitu ibu Sumarah Hadiyatman,” jelas Lamsari, yang kini masih bekerja di keluarga itu.

Ditutup Tahun 2000
Lamsari, sang pemandu museum, mengatakan bahwa museum yang diresmikan oleh Tien Soeharto itu kemudian ditutup pada awal tahun 2000. Selama ini, yang sangat aktif mengurus museum memang mendiang Nelly Malik. “Pengunjung dulu lumayan ramai, terutama anak sekolah, ibu-ibu Dharma Wanita, juga turis asing ingin melihat koleksi ini,” tuturnya.
“Dulu museum ini punya banyak inventaris, mulai dari guci-guci keramik yang 90 persennya berasal dari negeri China hasil koleksi Bapak (Adam Malik), juga lukisan antara lain karya Basuki Abdullah, Affandi, Sudjojono hingga Dullah, dirawat oleh anak-anaknya. Guci-guci keramik itu ada di Fatahillah, sedangkan lukisan ada pada putranya,” papar Lamsari.
Dahulu museum itu memang menghimpun 5.000 lebih benda koleksi Adam Malik berupa keramik, patung, batu mulia, dan barang kenangan lain. Bangunan rumah itu sendiri pada awalnya merupakan hadiah dari Presiden Soeharto yang kemudian dijadikan sebagai kantor pusat dan museum Yayasan Adam Malik.
Nelly ikut mendirikan Yayasan Adam Malik yang mengelola museum, perpustakaan, akademi perawat, dan rumah sakit. Yayasan Adam Malik selama ini telah memberikan penghargaan kepada penemu ilmu pengetahuan dan wartawan yang berdedikasi tinggi terhadap nusa dan bangsa.
Lamsari menambahkan, ketika Nelly masih mengelola museum, perawatan museum cukup baik, termasuk ada brosur yang dibagikan kepada para pengunjung, tetapi kini brosur tidak dicetak lagi, padahal brosur tersebut sekarang sudah habis.
“Saya dulu ikut memberikan keterangan tentang koleksi-koleksi di museum kepada para tamu,” ujarnya, sambil menyebutkan salah satu karya yang sangat disukai adalah patung Bunda Maria dari Rusia, yang juga merupakan bagian dari koleksi museum itu.
Seorang supir keluarga itu, yang kebetulan ada di gardu, bahkan mengisahkan tentang bagaimana mendiang Nelly selama ini yang bersikap mandiri dalam mengelola museum. Sangat disayangkan, museum itu kini tinggal di dalam memori, sebagaimana kenangan beberapa museum lainnya yang pernah didirikan oleh para tokoh nasional maupun para maestro kebudayaan. (*)