Tag

WISATA SEJARAH
Yogya-Solo Berpeluang
Jadi Kota Pusaka Dunia

Selasa, 29 April 2008
Setelah dikenal sebagai kota wisata budaya dan kota wisata pendidikan, Kota Yogyakarta dan Solo kembali memperlihatkan potensi barunya yang bernilai ekonomis bagi usaha kepariwisataan sejarah.
Potensi tersebut, seperti diutarakan Kepala Badan Pariwisata Yogyakarta Tazbir SH Mhum, di Yogyakarta, baru-baru ini, antara lain bisa dilihat dari banyaknya peninggalan benda-benda sejarah di Yogyakarta, baik benda-benda sejarah kemerdekaan Indonesia maupun benda-benda berupa situs sejarah prakemerdekaan yang secara keseluruhan berpeluang dimanfaatkan menjadi kota pusaka dunia.
“Coba cermati sejarah kehadirannya di dunia ini. Yogyakarta dan Solo ini sebenarnya memiliki banyak kemiripan dengan sejarah kehadiran Kota Paris, Kyoto, Quebeq, dan beberapa kota wisata terkenal lainnya di dunia. Pantas disebut demikian karena di kedua kota di Jawa ini banyak gedung-gedung peninggalan sejarah yang unik,” ujar Tazbir.
Namun, apabila gedung-gedung bersejarah tersebut tidak dikelola dan dilestarikan, sudah pasti akan punah. “Sebagai gantinya berdiri mal atau pusat perbelanjaan,” kata Ketua Paguyuban Pusaka Yogya, Dr Laretna T Adishakti, dalam diskusi terbatas di Asrama Gallery, Yogyakarta, Jumat lalu.
Staf pengajar Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu yakin, jika peninggalan-peninggalan sejarah di Kota Yogya dan Solo dirawat dengan baik, peluangnya untuk menjadi kota pusaka dunia sangat besar. “Apa yang saya sampaikan ini didasarkan pada data kota pusaka dunia, the Organization of Word Heritage Cities, yang berkedudukan di Quebeq. Jadi, tidak asal ngomong,” tutur Laretna.
Sayangnya, saat ini banyak bangunan bersejarah di Kota Solo dan Yogya tidak dirawat baik. Cat gedungnya, misalnya, terus saja dibiarkan kusam sehingga tidak menarik. “Padahal, jika semua bentuk peninggalan sejarah Indonesia itu bisa dilestarikan, bangunan-bangunan kuno yang ada pasti bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan,” lanjutnya.
Namun, ia tidak bisa menyalahkan para pemilik bangunan kuno tersebut yang kurang perhatian dalam perawatan. Pasalnya, disadari bahwa untuk merawat benda-benda atau bangunan-bangunan bersejarah butuh dana besar.
Karena itu, Tazbir mengusulkan agar upaya melestarikan bangunan-bangunan atau gedung-gedung peninggalan sejarah di Yogya dan sekitarnya diberi payung hukum yang tegas dan transparan, sehingga kalau ada yang merusak atau membongkar, bisa dikenai sanksi. (Ami Herman/B Sugiharto)
sumber:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=198483


About these ads