Tag

Liputan6.com, Jakarta: Benarkah ada manusia kerdil atau pigmi di Nusatenggara Timur? Mungkin itu pertanyaan yang mengemuka saat tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengumumkan penemuan fosil manusia kerdil di Liang Bua, Ruteng, Flores, NTT, dalam konferensi pers di Sydney, Australia pada Oktober 2004. Fosil yang kemudian bernama homo floresiensis itu pun sontak menjadi buah bibir dunia.Fosil tengkorak berkode LB-I itu kian tenar menyusul penemuan tengkorak lain di lubang galian XI Liang Bua. Tim menemukan rahang atau mandibula pada kedalaman 5,1 meter. “Ini dari individu homo floresiensis yang berbeda,” ujar Kepala Puslit Arkenas Tony Jubiantono kepada tim Potret SCTV, belum lama ini.

Hebatnya, menurut Tony, homo floresiensis dengan memiliki volume otak kecil yang kira-kira identik dengan monyet mampu menciptakan alat. Buktinya, tim menemukan berbagai perkakas pada lapisan yang sama. Jika ini benar, homo floresiensis menjadi akhir dari homo erectus dan menjadi awal dari homo sapiens atau manusia modern.

Namun, pendapat berbeda datang dari Antropolog Ragawi Universitas Gadjah Mada Teuku Yacob. Berdasarkan ciri-ciri fisik, Yacob menilai LB-1 adalah manusia modern. “Cuma lebih kecil karena katai atau menderita otak kecil alias microcephalus,” jelas Yacob. Kondisi ini bisa diakibatkan faktor keturunan (genetik) atau faktor lingkungan bisa juga kedua-dua unsur tersebut.

Selain itu, Yacob menambahkan, terdapat berbagai kelainan pada fosil LB-1 seperti pada muka dan rahang termasuk tulang badan macam tungkai dan lengan. “Ini banyak mengandung penyakit dan abnormalitas,” ujar Yacob. Dengan demikian, individu tersebut tak dapat dijadikan prototipe untuk mendirikan spesies baru.

Polemik soal homo floresiensis terus bergulir. Para peneliti dihadapkan pada kenyataan ada sebuah desa yang terletak tak jauh dari Liang Bua yang mayoritas berpenduduk orang-orang katai atau memiliki tinggi tubuh di bawah 150 sentimeter. Pada penelitian yang berlangsung pada April 2005, lebih dari 80 persen penduduk Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waerii, Kabupaten Manggarai, NTT adalah pigmi.

Menurut Koeshardjono, peneliti dari UGM, warga Rampasasa umumnya bertubuh pigmi dengan tubuh yang proporsional. Pertumbuhan pun tampak normal. Salah satu ciri fisik yang tampak khusus adalah masyarakat Rampasasa rata-rata tak memiliki dagu. “Mereka sama homosapiens dari ras australomelanesid yang pigmi atau katai,” tambah Koeshardjono.

Misteri soal manusia kerdil dari NTT tampaknya akan terus menjadi misteri. Para peneliti dan arkeolog terus berlomba mencari jawaban dari kedalaman Liang Bua yang pertama kali digali oleh Pater Dr Theodore Verhoeven pada 1965. “Misteri ini akan terus kita teliti lebih jauh,” tegas Yus Due Awe dari Puslit Arkenas dengan berapi-api.(TOZ)

About these ads