Tag

, , , ,

museum-negeri-sri-badugaMuseum Negeri Sri Baduga , Museum & Pendidikan Jl. BKR No. 185 Bandung Bandung – 40243 Jawa Barat, Indonesia telepon fax e-mail website messenger : +62 22 5210976 : – : – : – : -

Fasilitas: Geologika Etnografika Arkeologika Filogogika Histrorika/Heraldika Kramologika Seni Rupa Teknologika dan Biologika Auditorium lahan parkir dan lain sebagainya.

Bagi yang hendak berkunjung, Museum Sri Baduga dibuka pada hari:

Senin – Jum’at pukul 08.00 – 15.00 WIB, Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 14.00 WIB, hari libur nasional lainnya tutup.

Museum Negeri “Sri Baduga”  terletak di ruas Jalan B.K.R. 185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan bangunan bekas kewedanaan Tegallega. Bangunan Museum berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; adapun bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran.

Museum ini memiliki koleksi yang sangat luas mengenai barang-barang seni budaya Jawa Barat tang berhubungan dengan biologi, etnografi, arkeologi, numismatik, filologi, dermatologi, seni murni dan teknologi. Sekilas tentang Museum Sri Baduga Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daud Yusuf dan diberi nama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat.

Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area), mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik (non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi). Sepuluh tahun kemudian, nama museum dilengkapi dengan nama “Sri Baduga” diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama ini tertuang dalam prasasti Batutulis (Bogor) secara lengkap tertulis SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI I PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU DEWATA.

Sebagai Museum umum yang memiliki koleksi dari jenis koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi ini, tercatat tidak kurang sebanyak 5.367 buah koleksi; terbanyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan dengan benda-benda budaya daerah. Jumlah koleksi tersebut tidak terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan koleksi. Untuk lebih meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap museum, berbagai kegiatan telah dijalankan, baik yang bersifat kegiatan mandiri ataupun kerjasama kegiatan yang bersifat lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun lembaga asing; diantaranya berupa penyelenggaraan pameran temporer, pameran keliling, pameran bersama dengan museum dari berbagai propinsi, berbagai macam lomba untuk tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, dan sebagainya.

Karena perkembangan peran dan fungsinya sebagai tempat atau wahana dalam menunjang pendidikan, menambah pengetahuan, dan rekreasi; Museum Negeri Propinsi “Sri Baduga” Jawa Barat melaksanakan renovasi terhadap tata pameran tetapnya secara bertahap mulai tahun 1989 sampai dengan tahun 1992, berikut perluasan ruang pameran baru di lantai tiga.

Penyajian koleksi ditata sedemikian rupa dan diupayakan agar pengunjung dapat memperoleh gambaran tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa barat, corak dan ragamnya, serta fase-fase perkembangan serta perubahannya. Pengelompokannya dibagi menjadi; lantai satu merupakan tampilan perkembangan awal dari sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Dalam tata pameran ini digambarkan sejarah alam yang melatarbelakangi sejarah Jawa Barat, antara lain dengan menampilkan benda-benda peninggalan buatan tangan dari masa Prasejarah hingga jaman Hindu-Buddha.

Di lantai kedua meliputi materi pameran budaya tradisional berupa pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian hidup, perdagangan, dan transportasi; pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan bangsa,dan lambang-lambang daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Adapun lantai tiga, memamerkan koleksi etnografi berupa ragam bentuk dan fungsi wadah, kesenian, dan keramik asing. Museum Sri Baduga Sepuluh lembar rangkaian daun lontar berwarna kuning kecokelatan direntangkan vertikal dan ditempelkan ke dinding kayu belakang sebuah almari kaca berukuran sekitar 1×1,5 meter. Di setiap lembar daun yang usianya mungkin sudah ratusan tahun itu, tersusun rapi pahatan huruf dan bahasa Jawa Kuno. Di bawah lembaran yang terbuka, terlihat tumpukan naskah dari daun lontar yang lain setebal kira-kira 10 sentimeter. Sebuah keterangan sangat singkat berbunyi “Riwayat Nabi Yusuf” dipasang di bawah keseluruhan naskah. Selain naskah dari daun lontar, di dalam almari teronggok dua lagi naskah kuno. Warna keduanya sudah kuning kusam. Bahkan sebagian di antaranya dimakan ngengat sehingga meninggalkan bekas bolong-bolong. Satu naskah di bagian depan terbuat dari kertas berbahan dasar kulit pohon saeh bertulisan huruf cacarakan dan berbahasa Jawa dan Sunda Kuno. Menurut keterangan yang ada, isinya adalah Babad Pajajaran. Sementara itu, naskah yang ada di belakang terbuat dari kertas daluang, berhuruf, dan bahasa Jawa Kuno. Secuil keterangan yang ada menyebut itu naskah Sargah 7. Itulah tiga koleksi naskah kuno yang tersimpan di Museum Negeri Sri Baduga, Jalan BKR Nomor 185, Bandung. Menurut ahli filologi (ilmu tentang naskah/tulisan) museum setempat, Tien Wartini, 56 tahun, pihaknya belum menerjemahkan ketiga naskah tersebut. Kalaupun ada sedikit keterangan yang dipajang di almari kaca, misalnya judul Riwayat Nabi Yusuf, itu lantaran ia sempat membaca bagian awal naskah. Tapi, ya, hanya sebatas itu. Isinya lebih lengkap, Tien belum tahu. Sementara itu, Babad Pajajaran, menurut keterangannya, ada beberapa baris. Cuma, itu bukan hasil kerja pihak museum. “Keterangan itu kami dapat dari orang yang menyumbangkan naskah, yakni Pak Yosep Iskandar,” katanya, saat ditemui Tempo News Room, Kamis (1/4). Di luar tiga naskah itu, masih ada lebih dari 100 naskah lain yang nasibnya sama. Semuanya disimpan di Museum Sri Baduga sebatas menjadi benda kuno, tapi belum bisa dikuak isi pastinya. Menurut Kusnadi Adiwidjaja, Kepala Seksi Perlindungan Museum Sri Baduga, dari total 137 naskah, pihaknya memang baru menerjemahkan 15 buah saja. Dalam setahun, rata-rata diterjemahkan dua buah naskah. Tentu saja, itu sebuah kabar duka bagi mereka yang ingin mengetahui penggalan-penggalan sejarah Tatar Sunda dan sekitarnya. Hal itu, antara lain, disuarakan Nunun Nurhayati, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat. “Saya kira, penerjemahannya harus dipercepat. Sebab, naskah-naskah itu menjadi salah satu sumber identitas orang Sunda,” katanya. Di luar masalah dana, alasan yang mengemuka tentang lamanya proses penerjemahan adalah terbatasnya filolog di Museum Sri Baduga. Saat ini, di situ cuma ada dua filolog, yakni Tien Wartini, dan Sri Mulyati. Belum lagi pertimbangan teknis kerja. “Untuk menerjemahkan, kita mesti ekstra teliti dan hati-hati. Maklum, semuanya barang kuno,” ujar Tien, yang setahun lagi memasuki masa pensiun. Sejatinya, pihak museum bukan abai terhadap proses penerjemahan itu. Cuma, kemampuannya, itu tadi, setahun paling dua naskah saja yang diterjemahkan. Toh, dibanding museum di daerah lain, menurut Jaenuddin, Kepala Balai Pengelolaan Museum Sri Baduga, usahanya terhitung masih bagus. “Maklum, semuanya harus dibagi-bagi, baik tenaga maupun biaya. Sebab, selain koleksi naskah kuno, kita kan masih punya sembilan koleksi nonnaskah yang juga harus diurusi,” katanya. Yang menggembirakan, jika Tien harus pensiun tahun depan, tenaga ahli filologi sebenarnya lumayan tersedia, misalnya dari Universitas Padjadjaran. Saat ini pun beberapa orang dari mereka sudah melakukan latihan kerja di Museum Sri Baduga. “Saya sudah bicara ke dosen pembimbing mahasiswa yang magang, ‘Ini lo, ada lapangan (kerja).’ Silakan dimanfaatkan,” kata Jaenuddin.

Naskah Tulisan dari:

http://www.bandungtourism.com/act_det_lis_d_i.php?Id=13

About these ads